07
May
09

STRATEGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA YANG EFEKTIF

MENYONGSONG ERA PERSAINGAN MUTU

Oleh: Prof. Dr. H. Karwono, M.Pd
Sejumlah hasil penelitian menemukan adanya kesulitan  peserta didik  dalam memecahkan masalah matematika dan ini terjadi hampir disemua jenjang pendidikan. Prestasi matematika peserta didik baik secara nasional maupun internasional belum menggembirakan. Hasil survei yang dilakukan oleh lembaga internasional juga menempatkan prestasi peserta didik Indonesia pada posisi bawah. Terakhir, hasil survei TIMSS 2003 (Trends in International Mathematics and Sciencies Study) di bawah payung International Association for Evaluation of Educational Achievement (IEA) menempatkan Indonesia pada posisi ke-34 untuk bidang matematika dan pada posisi ke-36 untuk bidang sains dari 45 negara yang disurvei.

Hasil penelitian juga merekomedasi perlunya pembelajaran yang difokuskan pada aspek  konsteksual, kolaboratif, memberikan kesempatan berpikir metakognitif, dan menyediakan peluang lebih besar pada jalannya proses pemecahan masalah oleh peserta didik.

Harapan dan Keprihatinan

Salah satu diantara kesulitan belajar yang dialami peserta didik di kelas antara lain, karena dunia nyata (alam sekitar) hanya dijadikan ajang untuk mengaplikasikan konsep. Strategi pembelajaran yang dilakukan guru misalnya untuk bidang studi matemaika cenderung berangkat dari konsep seperti rumus-rumus yang selanjutnya menerapkan rumus dalam realitas kehidupan. Di sisi lain konsep itu sebenarnya dibangun dari suatu realitas (fakta kehidupan) yang secara induktif digeneralisasikan menjadi suatu konsep. Matematika Realistik adalah salah satu pembelajaran matematika yang berorientasi pada pengalaman sehari-hari (mathematize of everyday experience) dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari.  Menurut Van de Henvel-Panhuizen (2000), bila anak belajar matematika terpisah dari pengalaman mereka sehari-hari maka anak akan cepat lupa dan tidak dapat mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu   pembelajaran matematika di kelas ditekankan pada keterkaitan antara konsep-konsep matematika dengan pengalaman kehidupan peserta didik sehari-hari.

Sumber belajar yang ada disekitar kehidupan peserta didik belum banyak  dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran, kecenderungan dalam pembel-ajaran bayak memanfaatkan guru dan buku teks, hal terlihat jika guru tidak hadir maka tidak ada sumber belajar yang dimanfaatkan (Karwono, 1993: 5). Sampai saat ini guru  masih menjadi aktor kunci dalam pembelajaran  di sekolah-sekolah kita, dan  belum banyak bergerak ke arah pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik. Pada dasarnya belajar merupakan kegiatan peserta didik baik dengan bimbingan guru maupun dengan usahanya sendiri sepenuhnya. Hadir nya orang lain termasuk guru dalam pembelajaran dimaksudkan agar belajar menjadi lebih mudah, lebih efektif dan efisien dan bearah tujuan atau dengan ungkapan lain hadir guru dalam pebelajaran untuk membentuk pola belajar.

Melalui dunia nyata peserta didik dapat didorong untuk menemukan kembali dan mengkonstruksi konsep matematika berdasarkan pada masalah realistik yang diberikan oleh guru. Masalah yang ditemui peserta didik di alam reaalistik dapat dipecahkan secara informal, dan melalui  cara-cara informal ini peserta didik dapat menemukan kembali pengkonstruksian konsep.  Melalui cara ini berarti informasi yang diberikan kepada peserta didik berkaitan dengan skema (jaringan representasi) anak.  Melalui interaksi kelas keterkaitan skema anak akan menjadi lebih kuat sehingga pengertian peserta didik tentang konsep yang mereka konstruksi sendiri menjadi kuat. Dengan demikian, pembelajaran matematika realistik akan mempunyai kontribusi yang sangat tinggi dengan pengertian peserta didik.

Pembelajaran di sekolah akan menjadi lebih bermakna bila guru mengaitkan dengan apa yang telah diketahui anak.  Pengertian peserta didik tentang ide matematik dapat dibangun melalui sekolah, jika mereka secara aktif mengaitkan dengan pengetahuan mereka.  Mitzel (1982) mengatakan bahwa, hasil belajar secara langsung dipengaruhi oleh pengalaman dan faktor internal peserta didik.  Bila peserta didik dalam belajarnya bermakna atau terjadi kaitan antara informasi baru dengan jaringan representasi maka peserta didik akan mendapatkan suatu pengertian. Mengembangkan pengertian merupakan tujuan Pembelajaran matematika.  Karena tanpa pengertian orang tidak dapat mengaplikasikan prosedur, konsep, ataupun proses.  Realita seperti ini  yang sulit dijumpai dalam pembelajaran di sekolah kita selama ini, strategi pembelajaran langsung yang berorentasi kepada guru (teacher centred) dalam pembelajaran matematika ke depan perlu ada pergeseran paradigma.

Variabel yang mempengaruhi Pemilihan  Stategi Pembelajaran

Kata strategi pada awalnya lebih banyak digunakan di kalangan  militer  untuk menata seperangkat keperluan dalam upaya mengalahkan musuh. Untuk itu diperlukan persiapan sejumlah pasukan, jenis dan jumlah senjata, jenis dan jumlah perlengkapan, jenis dan jumlah alat angkutan, jumlah perbekalan, sampai kepada waktu dan cara  penyerangan lawan untuk mengalahkan musuh, hal ini jelas bahwa tujuannya adalah musuh kalah. Oleh sebab itu kekuatan musuh menjadi salah satu dasar pertimbangan. Di dalam strategi pembelajaran yang dasar pertimbangannya adalah “belajar itu sendiri”, karena yang menjadi tujuan yang hendak dicapai adalah berupa tingkah laku peserta didik (si belajar) yaitu individu yang melakukan belajar dan bukan guru yang memberi pelajaran. Terdapat berbagai pandangan tentang belajar, dimana satu dengan yang lain terdapat berbedaan, perbedaan inilah yang menjadikan dasar pijakan, sehingga menghasilkan strategi yang dipilih dalam pebelajaran juga berbeda.

Pemilihan Strategi Pembelajaran, dipengaruhi oleh banyak variable, tali-temali variable tersebut akan memberikan kontribusi terhadap pemilihan strategi pembelajaran untuk mencapai hasil pembelajaran yang diharapkan.  Banyak usaha telah dilakukan oleh ilmuwan di bidang pendidikan dan pembelajaran untuk mengklasifikasikan variabel antara lain Simon (1969) mengklasifikasikan varibel dalam pembelajaran menjadi  3 yaitu: (1) alternative goals or requirements (2) possibilities for action, dan (3) fixed parameters or contraints. Klasifikasi lain yang nampaknya lebih rinci  dan amat memadai sebagai landasan pengembangan teori pembelajaran dikemukakan oleh Reigeluth, dkk  (1977), dan 1978, 1979: 1983 dimodifikasi menjadi tiga yaitu: (1) Kondisi Pembelajaran (2) Metode Pembelajaran (3) Hasil Pembelajaran.

Kondisi pembelajaran adalah faktor yang mempengaruhi efek metode dalam meningkatkan hasil pembelajaran, kondisi pembelajaran sifatnya givMetode Pembelajaran: adalah cara-cara yang berbeda untuk mencapai hasil pembelajaran yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda.
Hasil Pembelajaran: adalah semua efek yang dapat dijadikan sebagai idikator tentang nilai dari penggunaan metode di bawah kondisi yang berbeda.
Taksonomi Variabel tersebut dapat divisualisasikan sebagai berikut:

1

Keefektifan Pembelajaran, biasanya diukur dengan tingkat pencapaian si-belajar. Ada 4 aspek penting yang dapat dipakai untuk mempreskripsikan keefektifan pembelajaran yaitu: (1) kecermatan penguasaan perilaku yang dipelajari atau sering disebut tingkat kesalahan (2) kecepatan unjuk kerja (3) tingkat alih belajar (4) tingkat retensi dari apa yang dipelajari.

Efisiensi Pembelajaran, biasanya diukur dengan rasio antara keefektifan dan jumlah waktu yang dipakai si-belajar dan/atau jumlah biaya pembelajaran yang digunakan.

Daya Tarik Pembelajaran, biasanya  diukur dengan mengamati kecenderungan si-belajar untuk  tetap/terus belajar. Daya tarik pembelajaran   erat kaitannya dengan daya tarik bidang studi, dimana kualitas pembelajaran biasanya  akan mempengaruhi  keduanya. Itulah sebabnya  pengukuran kecenderungan si belajar untuk terus atau tidak terus belajar dapat dikaitkan dengan proses pembelajaran itu sendiri  atau dengan bidang studi.

Strategi pembelajaran merupakan salah satu komponen dalam sistem pembelajaran yang merupakan rencana dan kebijakan yang dirancang untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran berupa perubahan perilaku yaitu hasil pembelajaran yang terdiri dari efektifitas, efisiensi, dan daya tarik pembelajaran. Komponen strategi pembelajaran terdiri dari strategi pengorganisian yang bekerja di bawah tujuan dan karakteristik bidang studi, strategi penyampaian yang bekerja di bawah kendala dan karakteristik bidang studi, serta strategi pengelolaan yang bekerja di bawah karakteristik peseta didik yang sifatnya given untuk mencapai hasil pembelajaran yang tetapkan. Untuk menentukan strategi pembelajaran tertentu sangat dipengaruhi oleh kondisi yang sifatnya given untuk mencapai hasil yang telah ditetapkan.

Karakteristik Bahan Ajar, Regeluth dan Merrill (1979) mengaalisis isi bidang studi menjadi 4, yang disebut sebagai konstruk isi bidang studi, yaitu: (a) Fakta (b) Konsep (c) Prinsip (d) Prosedur

Fakta: asosiasi satu ke satu  antara obyek, peristiwa, atau simbul yang ada, atau mungkin ada, di dalam lingkungan riil atau imajinasi. Misalnya; Jakarta ibukota Republik Indonesia.

Konsep: sekelompok obyek, peristiwa atau simbul yang memiliki karakteristik umum yang sama dan yang diidentifikasi dengan nama yang sama. Misal konsep tentang binatang.

Prinsip: hubungan sebab akibat antara konsep-konsep: Misalnya: prinsip penawaran dan permintaan dalam ekonomi.

Prosedur: urutan langkah-langkah untuk mencapai tujuan, pemecahan masalah tertentu, atau membuat sesuatu. Misalnya, prosedur penelitian.

Peristiwa Pembelajaran

Teori belajar pengolahan informasi mendeskripsikan bahwa tindakan belajar merupakan proses internal yang mencakup beberapa tahapan belajar. Gagne (1985) mengemukakan bahwa tahapan-tahapan ini dapat dimudahkan dengan menggunakan metode pembelajaran yang mengikuti urutan tertentu yang disebut peristiwa pebelajaran (the events of intruction). Peristiwa pembelajaran ini dibagi menjadi 9 tahapan, yang diasumsikan sebagai cara-cara eksternal yang berpotensi pendukung proses-proses internal dalam belajar. Hakekat suatu peristiwa pembelajaran berbeda tergantung pada kapabilitas apa yang diharapkan menjadi hasil pembelajaran.

Kondisi untuk belajar kapabilitas yang berbeda

2

Adaptsi dari Gagne (1977:141)

Sembilan peristiwa pembelajaran yang dikembangkan oleh Gagne adalah:

1.    Menarik perhatian
2.    Memberitahukan tujuan pembelajaran kepada peserta didik
3.    Merangsang ingatan pada prasyarat belajar
4.    Menyajikan bahan perangsang
5.    Memberikan bimbingan belajar
6.    Mendorong unjuk kerja
7.    Memberikan balikan informatif
8.    Menilai unjuk kerja
9.    Meningkatkan retensi dan alih belajar

Kerangka Kerja dalam Pembelajaran

Dalam pembelajaran terdapat istilah yang memiliki kemiripan dan sering dipertukarkan arti dalam kerangka pembelajran yaitu: medel pembelajran, strategi pembelajaran, dan metode pembelajaran. Agar ketiga istilah tersebut menjadi jelas makna berikut dijelaskan  sebagai berikut:

3

Model-model Pembelajaran

Model, menggambarkan tingkat terluas dari praktek pendidikan dan berisikan orientasi filosofi pembelajaran. Model digunakan untuk menyeleksi dan menyusun strategi pembelajaran, metode, keterampilan, dan aktivitas peserta didik untuk memberikan tekanan pada salah satu bagian pembelajaran (topic/konten).

Strategi Pembelajaran, dalam setiap model terdapat beberapa strategi yang dapat digunakan. Strategi pembelajaran merupakan rencana atau kebijakan yang dirancang untuk mencapai suatu tujuan. Dengan demikian strategi mengacu kepada pendekatan yang dapat dipakai oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran. Strategi dikelompokkan menjadi strategi langsung (direct), strategi tidak langsung (indirect), strategi interaktif (interactive), strategi melalui pengalaman (experiential), dan strategi mandiri (independent).

Metode-metode Pembelajaran, digunakan oleh guru untuk mengkreasi lingkungan belajar dan mengkhususkan aktivitas di mana guru dan peserta didik terlibat selama proses pembelajaran berlangsung. Biasanya metode digunakan melalui salah satu strategi, tetapi juga tidak tertutup kemungkinan beberapa metode berada dalam strategi yang bervariasi, artinya penetapan metode dapat divariasikan melalui strategi yang berbeda tergantung pada tujuan yang akan dicapai dan konten proses yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran.

Keterampilan Pembelajaran, merupakan perilaku pembelajaran yang sangat spesifik. Dalam keterampilan pembelajaran ini juga mencakup kegiatan perencanaan yang dikembangkan guru, struktur dan fokus pembelajaran, serta pengelolaan pembelajaran. Strategi pembelajaran  meliputi:

1. Strategi Pembelajaran Langsung (direct instruction)

Strategi pembelajaran langsung merupakan strategi yang kadar berpusat pada gurunya paling tinggi, dan paling sering digunakan. Pada strategi ini termasuk di dalamnya metode-metode  ceramah, pertanyaan didaktik, Pembelajaran eksplisit, praktek dan latihan, serta demonstrasi.

Strategi pembelajaran langsung efektif digunakan untuk memperluas informasi atau mengembangkan keterampilan langkah demi langkah

2.  Strategi Pembelajaran Tidak Langsung (indirect instruction)

Pembelajaran tidak langsung memperlihatkan bentuk keterlibatan tinggi peserta didik dalam melakukan observasi, penyelidikan, penggambaran inferensi berdasarkan data, atau pembentukan hipotesis.

Dalam pembelajaran tidak langsung, peran guru beralih dari penceramah menjadi fasilitator, pendukung, dan sumber personal (resource person).

Guru merancang lingkungan belajar, memberikan kesempatan peserta didik untuk terlibat, dan jika memungkinkan memberikan umpan balik kepada peserta didik ketika mereka melakukan inkuiri.

Strategi pembelajaran tidak langsung mensyaratkan digunakannya bahan-bahan cetak, non-cetak, dan sumber-sumber manusia

3. Strategi Pembelajaran Interaktif (interactive instruction)

Strategi pembelajaran interaktif merujuk kepada bentuk diskusi dan saling berbagi di antara peserta didik.

Seaman dan Fellenz (1989) mengemukakan bahwa diskusi dan saling berbagi akan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memberikan reaksi terhadap gagasan, pengalaman, pandangan, dan pengetahuan guru atau kelompok, serta mencoba mencari alternatif dalam berpikir.

Strategi pembelajaran interaktif dikembangkan dalam rentang pengelompokkan dan metode-metode interaktif.

Di dalamnya terdapat bentuk-bentuk diskusi kelas, diskusi kelompok kecil atau pengerjaan tugas berkelompok, dan kerjasama peserta didik secara berpasangan.

4.  Strategi Belajar Melalui Pengalaman (experiential learning)

Strategi belajar melalui pengalaman menggunakan bentuk sekuens induktif, berpusat pada peserta didik, dan berorientasi pada aktivitas.

Penekanan dalam strategi belajar melalui pengalaman adalah pada proses belajar, dan bukan hasil belajar.

Guru dapat menggunakan strategi ini baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Sebagai contoh, di dalam kelas dapat digunakan metode simulasi, sedangkan di luar kelas dapat dikembangkan metode observasi untuk memperoleh gambaran pendapat umum.

Strategi Belajar Mandiri (independent study)

Strategi belajar mandiri merujuk kepada penggunaan metode-metode pembelajaran yang tujuannya adalah mempercepat pengembangan inisiatif individu peserta didik, percaya diri, dan perbaikan diri. Fokus strategi belajar mandiri ini adalah merencanakan belajar mandiri peserta didik di bawah bimbingan atau supervisi guru.

Belajar mandiri menuntut peserta didik untuk bertanggungjawab dalam merencanakan dan menentukan kecepatan belajarnya.

Pembelajaran Matematika Realistik

Strategi pembelajaran mengacu kepada pendekatan yang dapat dipakai oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Matematika realistik yang dimaksudkan adalah matematika sekolah yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman peserta didik sebagai titik awal pembelajaran.  Masalah realistik digunakan sebagai sumber munculnya konsep matematika atau pengetahuan matematika formal.  Pembelajaran MR di kelas berorientasi pada masalah konkrit, sehingga peserta didik mempunyai kesempatan untuk menemukan kembali konsep-konsep matematika atau pengetahuan matematika formal.  Selanjutnya, peserta didik diberi kesempatan mengaplikasikan konsep-konsep matematika untuk memecahkan masalah sehari-hari atau masalah dalam bidang lain.  Pembelajaran ini sangat berbeda dengan pembelajaran matematika selama ini yang cenderung berorientasi kepada memberi informasi dan memakai matematika yang siap pakai untuk memecahkan masalah.   Pembelajaran matematika realistik diawali dengan fenomena, kemudian peserta didik dengan bantuan guru diberikan kesempatan menemukan kembali dan mengkonstruksi konsep sendiri.  Setelah itu, diaplikasikan dalam masalah  kehidupan sehari-hari atau dalam bidang lain.

Matematika realistik pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di Belanda pada tahun 1970 oleh Institut Freudenthal.  Teori ini mengacu pada pendapat Freudenthal yang mengatakan bahwa matematika harus dikaitkan dengan realita dan matematika merupakan aktivitas manusia.  Ini berarti matematika harus dekat dengan anak dan relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari.  Matematika sebagai aktivitas manusia berarti manusia harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa (Gravemeijer, 1994).  Upaya ini dilakukan melalui penjelajahan berbagai situasi dan persoalan-persoalan “realistik”.  Realistik dalam hal ini dimaksudkan tidak mengacu pada realitas tetapi pada sesuatu yang dapat dibayangkan oleh peserta didik (Slettenhaar, 2000).  Prinsip penemuan kembali dapat diinspirasi oleh prosedur-prosedur pemecahan informal, sedangkan proses penemuan kembali menggunakan konsep matematisasi.

Pembelajaran matematika realistik memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan kembali dan merekonstruksi konsep-konsep matematika, sehingga peserta didik mempunyai pengertian kuat tentang konsep-konsep matematika.  Melalui cara ini, pembelajaran matematika realistik akan mempunyai kontribusi yang sangat tinggi dengan pengertian peserta didik.  Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak.  Sifat abstrak ini menyebabkan banyak peserta didik mengalami kesulitan dalam matematika. Di sisi lain dalam pembelajaran dunia nyata (alam sekitar) hanya dijadikan ajang untuk mengaplikasikan konsep. Pembelajaran matematika yang dilakukan guru cenderung berangkat dari konsep seperti rumus-rumus yang selanjutnya mengaplikasikan rumus dalam realitas kehidupan. Di sisi lain konsep itu dibangun dari suatu realitas (fakta kehidupan) yang secara induktif digeneralisasikan menjadi suatu konsep. Permainan induktif deduktif adalah suatu strategi penyampaian pembelajaran  yang dilakukan guru.

Pendekatan dalam pendidikan matematika setidak-tidaknya dapat dibedakan menjadi empat jenis yaitu mekanistik, emperistik, strukturalistik, dan realistik.

Pendekatan mekanistik, merupakan pendekatan tradisional dan didasarkan pada apa yang diketahui dari pengalaman sendiri (diawali dari yang sederhana ke yang lebih kompleks),  melalui pendekatan ini manusia dianggap sebagai mesin.

Pendekatan emperistik, adalah suatu pendekatan dimana konsep-konsep matematika tidak diajarkan, dan diharapkan peserta didik dapat menemukan melalui matematisasi horisontal.

Pendekatan strukturalistik merupakan pendekatan yang menggunakan sistem formal, misalnya bahan ajar penjumlahan cara panjang perlu didahului dengan nilai tempat, sehingga suatu konsep dicapai melalui matematisasi vertikal.

Pendekatan realistik adalah suatu pendekatan yang menggunakan masalah realistik sebagai pangkal tolak pembelajaran.  Melalui aktivitas matematisasi horisontal dan vertikal diharapkan peserta didik dapat menemukan dan mengkonstruksi konsep-konsep matematika.

Pembelajaran matematika realistik menggunakan masalah realistik sebagai pangkal tolak pembelajaran., maka situasi masalah perlu diusahakan benar-benar kontektual atau sesuai dengan pengalaman peserta didik, sehingga peserta didik dapat memecahkan masalah dengan cara-cara informal melalui matematisasi horisontal.  Cara informal yang ditunjukkan oleh peserta didik digunakan sebagai inspirasi pembentukan konsep atau aspek matematiknya ditingkatkan melalui matematisasi vertikal.  Melalui proses matematisasi horisontal-vertikal diharapkan peserta didik dapat memahami atau menemukan konsep-konsep matematika (pengetahuan matematika formal).   Pembelajaran matematika menurut pandangan Konstruktivis   adalah memberikan kesempatan peserta didik untuk mengkonstruksi konsep-konsep/prinsip-prinsip matematika dengan kemampuan sendiri melalui proses internalisasi.  Guru dalam hal ini berperan sebagai fasilitator.

Pandangan konstruktivis tentang pembelajaran matematika menurut Davis (1996), berorientasi pada:
a. Pengetahuan dibangun dalam pikiran melalui proses asimilasi dan akomo-dasi,
b. Dalam pengerjaan matematika, setiap langkah peserta didik dihadapkan kepada masalah.
c.  Informasi baru harus dikaitkan dengan pengalamannya tentang dunia melalui suatu kerangka logis yang mentransformasikan, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan pengalamannya, dan
d.  Pusat pembelajaran adalah bagaimana peserta didik berpikir, bukan apa yang mereka katakan atau tulis.

Simpulan:

1.    Strategi pembelajaran terdiri dari strategi pengorganisasian, strategi penyampaian, dan strategi pengelolaan pembelajaran yang bekerja di bawah kondisi pembelajaran yang sifatnya given untuk mencapai hasil pembelajaran yang ditetapkan.
2.    Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak.  Sifat abstrak ini menyebabkan banyak peserta didik mengalami kesulitan dalam matematika.
3.    Pembelajaran matematika realistik merupakan pembelajaran yang  berpusat pada peserta didik, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dan motivator, sehingga memerlukan paradigma yang berbeda tentang bagaimana peserta didik belajar, bagaimana guru mengelola pembelajaran, dan apa yang dipelajari oleh peserta didik dengan paradigma pembelajaran matematika selama ini.  Karena itu, untuk mengimplementasikan pembelajaran matematika realistic, perlu perubahan persepsi guru dalam pembelajaran

Daftar Rujukkan

Atwel, Bleicher & Cooper.1998. “The Construction of The Social Contex of Mathematics Clasroom : A Sociolonguistic Analysis”. Dalam Journal for Research in Mathematics Education. Vol 29 No.1 January 1998.hal 63-82

Davis. 1996. “One Very Complete View (Though Only One) of How Children Learn Mathematics ” Dalam Journal for Research in Mathematics Education Vol.27. No.1 January 1996. hal. 100-106

Falmer Press Gravemeijer. 1994. Developing Realistics Mathematics Education. Freudenthal Institute.     Utrecht.

Gagne, Robert M, Leslie J., Briggs, and  Walter W. Wagner. Principles of Intructional  Design. Orlando: Harcourt Brace & Company, 1992.

Karwono. 1993. Pemenfaatan Sumber Belajar Bidang Studi IPS Sekolah Dasar di Kota Malang. (Thesis). PPS. IKIP Malang

Mitzel, H.E. 1982. Encyclopedia of Educational Research (Fifth Ed). New York: Macmillan NCTM. 2000. Principles and Standards for School Mathe-matics. USA: NCTM Price,J. 1996. “President’s Report: Bulding Bridges of Mathematical Understanding for All Children”. Dalam Journal for Research in Mathematics Education. Vol.27. No.5 November 1996: 603-608

Reigeluth, C.Mmerrill, M.D. 1977. Classes of Instructional Variables. Educational Technology.


3 Responses to “”


  1. January 26, 2013 at 6:37 pm

    wah bermanfaat banget prof, menambah wawasandan ilmu pengetahuan

  2. 2 wihasti
    January 10, 2010 at 1:39 pm

    assalamualaikum,,prof,sy minta tolong minta garis besar uraian tentang pembelajaran dari dick dan cary.soalnya uraianya terlalu banyak.trimakasih sebelumnya.

  3. 3 charisma
    October 16, 2009 at 3:19 am

    pak, maaf say mahsiswa s2 bapak. saya mau tanya untuk tugas mencari artikel ilmiah itu apakah hanya kita cari dan resume atau kita bandingkan artikel tersebut menggunakan desain siapa? terimakasi sebelumnya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


karwono

a

KALENDER

May 2009
M T W T F S S
« Mar   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

%d bloggers like this: