11
Feb
09

ORASI ILMIAH: SEKOLAH SEBAGAI BENTENG TERAKHIR PENJAGA PERADABAN

Orasi  Ilmiah ini disampaikan dalam Acara Pengukuhan Guru Besar  bidang ilmu  “Belajar dan Pembelajaran”di Universitas Muhammadiyah metro tanggal 7 Februari 2009.
Oleh: Karwono

Abstraksi
Tuntutan kehidupan moderen yang semakin komplek, mengakibatkan terjadinya pergeseran peran keluarga sebagai lembaga pendidikan utama.  Di sisi lain sulitnya menemukan sosok anutan yang ada dalam kehidupan masyarakat, akhirnya sendi-sendi kehidupan mulai bergeser dari akar budaya.

Kinerja sekolah menjadi benteng terakhir penjaga perandaban, oleh sebab  itu sekolah bukan hanya bertugas sebagai pemberdayaan tetapi lebih kepadapenyadaran dan guru merupakan komponen penting dalam transformasi budaya melalui sistem persekolahan.

Untuk menghasilkan guru yang memiliki kemampuan akademik dan professional yang memadai maka pendidikan pra-jabatan di LPTK, penekanandiberikan  kepada kemampuan guru agar dapat meningkatkan keterampilan  pembelajaran, mengatasi persoalan-persoalan  praktis  dalam pengelolaanpembelajaran dan meningkatan kepekaan guru terhadap perbedaan individual diantara peserta didik yang dihadapinya.

Untuk menata komponen eksternal dalam pembelajaran perlu memperhatikan karakteristik internal berupa locus of control yang dimiliki calon guru agar dapat menghasilkan produk pembelajaran yang optimal.

_a073055_a073070_a072979

Pendahuluan
Harapan dan Keprihatinan

Munculnya berbagai kasus dan polemik nasional yang marak digugat akhir-akhir ini seperti korupsi, kemiskinan, perampasan terhadap kemerdekaan orang lain, krisis kepercayaan, pemerkosaan, menipisnya rasa malu, dan masih sederetan panjang lagi seolah-olah kita sebagai bangsa tidak berdaya, dan gagal dalam mengatur sendi-sendi kehidupan bersama. Terhadap realita ini siapa yang salah dan harus digugat ? Apakah ada yang salah dengan sistem pendidikan nasional kita, sehingga bangsa kita tidak mampu menghadapi krisis multidimensi. Pertanyaan ini kurang menarik perhatian  apalagi menggugah para elit bangsa ini termasuk para cendikiawan dan pakar. Nampaknya para elit bangsa kita tidak sepeka para elit Amerika Serikat pada tahun 1957, dimana pada saat Amerika Serikat tertinggal dari sisi teknologi ruang angkasa Uni Soviet dengan diluncurkannya SPUTNIK, pertanyaan sederhana dari Senator J.F Kennedy “What’s wrong with American Classroom” sehingga Amerika Serikat tertinggal dari Uni Soviet di bidang teknologi ruang angkasa. Pertanyaan ini dapat menggerakkan gelombang pembaharuan pendidikan dengan mobilisasi dana yang luar biasa. Pertanyaan seperti ini diangkat untuk menunjukkan betapa penting dan strategisnya lembaga pendidikan dalam menjaga peradaban bangsa.

Ketika keluarga sebagai lembaga pendidikan utama sudah mulai terjadi pergeseran peran akibat tuntutan kehidupan moderen yang semakin komplek, disisi lain sulitnya menemukan sosok anutan yang ada dalam kehidupan masyarakat, akhirnya sendi-sendi kehidupan mulai bergeser dari akar budaya. Benteng terakhir penjaga perandaban yang menjadi tumpuan harapan adalah sekolah dan guru merupakan komponen penting untuk meningkatkan mutu pendidikan khususnya persekolahan di samping komponen lainnya seperti sarana prasarana, kurikulum, peserta didik, serta manajemen.
Berdasarkan hasil studi di negara-negara berkembang, guru memberikan sumbangan dalam prestasi belajar peserta didik (36%), selanjutnya manajemen (23%), waktu belajar (22%), dan sarana fisik (19%). Aspek yang berkaitan dengan guru adalah menyangkut citra/mutu guru dan kesejahteraan (Indra Djati Sidi, 2000). Menurut Soedijarto (2003) bahwa belum mantapnya sistem politik, ekono¬mi nasional, rendahnya produkti¬vitas, dan etos kerja nasional,  ka¬rena belum tertanamnya dalam diri warga negara nilai-nilai buda¬ya moderen yang diperlukan un¬tuk mendukung kehidupan ber¬negara dan berbangsa. “Pendidikan selama ini gagal menyiapkan generasi muda yang berkemam¬puan tinggi dan memiliki nilai-ni¬lai budaya yang diperlukan bagi kehidupan negara Indonesia yang moderen.” Untuk mewujudkan bangsa yang cerdas dan maju kebudaya¬an nasionalnya, sekolah sebagai perwujudan sistem pendidikan nasional harus berperan sebagai pusat pembudayaan.

Pertanyaan ikutan bagaimana wajah kinerja persekolahan selama ini sebagai benteng terakhir penjaga perandaban bangsa, apakah masih ada secercah harapan untuk menatap masa depan. Melalui mimbar yang terhormat ini, saya akan mencoba menelusuri kinerja persekolahan sebagai benteng terakhir penjaga  peradaban suatu bangsa.

Kinerja Lembaga Pendidikan Persekolahan
Berbagai kebijakan, regulasi, untuk memperbaiki kualitas pendidikan sudah  dilakukan, mulai dari bongkar pasang kurikulum, pengantian kurikulumum, deregulasi kelembagaan sampai pada upaya meningkatkan anggaran pendidikan. Pertanyaannya ikutan, sejauhmana upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah selama ini dapat ditagih hasilnya. Potret buram hasil riset UNDP 2000 bahwa dari 500 perguruan tinggi terbaik di dunia, tidak satupun terdapat nama perguruan tinggi kita. Daya saing kita hanya menempati peringkat ke-109 dari 174 negara. Rapor merah ini menunjukkan signal bahwa sistem pendidikan kita belum terintegrasi dengan benar sehingga kualitas lulusan yang di hasilkan belum memiliki daya saing.
Pada tahun  2004, UNDP juga telah mengeluarkan laporannya tentang kondisi HDI (Human Development Indeks)** di Indonesia. Dalam laporan tersebut, HDI Indonesia berada pada urutan ke 111 dari 175 negara. Posisi ini masih jauh dari Negara-negara tetangga kita, seperti Malaysia yang menempati urutan ke-59, Thailand yang menempati urutan ke 76 dan Philipina yang menempati urutan ke-83. Untuk kawasan Asia Tenggara, Indonesia hanya menempati satu peringkat di atas Vietnam. Sebuah negara yang baru saja keluar dari konflik politik yang besar dan baru memulai untuk berbenah diri namun sudah memperlihatkan hasilnya, karena membangun dengan tekad dan kesungguhan hati. Kondisi dunia pendidikan di tanah air saat ini, memberi gambaran dimana kualitas pendidikan di negera kita memang masih jauh dari yang kita harapkan.

Mesipun pasal 31 UUD kita telah mengamanatkan bahwa tiap-tiap warganegara berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran,  sejauh ini kita belum  mampu untuk mengangkat derajat kelompok yang kurang beruntung dari sisi potensi akademik dan finansial pada derajat yang  lebih bermakna dalam memperoleh layanan pendidikan. Pernyataan dalam ayat tersebut  terkandung makna demokratisasi dalam memperoleh pendidikan, dan pendidikan hakekatnya untuk semua (education for all). Sampai saat ini sistem persekolahan kita masih bersifat elite dan deskriminasi  sedangkan kawulo alit tetap tidak dapat mengharapkan lebih banyak terhadap kesempatan memperoleh layanan pendidikan, mereka tetap termarginalkan.

Sebagai ilustrasi, jika ada orang tua   membawa anaknya lulusan SMP dari desa  yang notabene nilai tes dan nilai ijazahnya rendah  dan status sosial ekonominya pas-pasan, ingin memasukan anaknya ke SMA Negeri terbaik di salah satu daerah. Hampir dapat dipastikan jawaban Kepala SMA Negeri terbaik tersebut adalah “anak bapak tidak dapat diterima di SMA ini karena nilai tes dan ijazahnya tidak masuk nominasi”. Selanjutnya anak tersebut dibawa ke SMA Swata yang terbaik di daerah tersebut, dan menyampaikan maksud untuk memasukkan anaknya kesekolah  swasta yang terbaik agar anaknya dapat tempat belajar yang baik, maka Kepala SMA swasta tersebut akan mengatakan: “bapak harus membayar sejumlah uang tertentu untuk dapat belajar di sekolah ini”, dan mereka tidak mampu untuk itu. Akhirya anak yang tidak memiliki kemampuan akdemik dan finansial tidak mendapat tempat  bersekolah yang  baik.

Saat ini sekolah negeri cenderung mendidik mereka  yang memiliki kemampuan akademik yang baik, sedangkan sekolah swasta cenderung memilih mendidik mereka yang punya potensi ekonomi baik.  Bagi anak yang  dianugerahi Alloh SWT potensi akademik dan financial yang  kurang beruntung cenderung akan termarginalkan. Di sisi lain anak yang dididik di lingkungan sekolah yang kurang baik hampir dapat dipastikan output yang dihasilkan cenderung kurang baik. Pada gilirannya untuk mengakses pekerjaan juga kurang baik dan berdampak pada akses ekonomi yang kurang beruntung. Kelompok ini pada akhirnya memperoleh akses pendidikan juga rendah dan seterusnya. Siapakah yang harus bertanggung jawab terhadap kelompok ini. Benarkah sekolah hanya bertugas mendidik anak yang potensi akademik dan ekonomi baik, bukankah sekolah bertugas untuk mendidik agar orang yang potensinya belum baik  dapat sedikit diangkat pada posisi yang lebih baik  berkat kinerjanya sekolah.

MENINGKATKAN KREDIBILITAS DAN MEMULIAKAN  TUGAS GURU
Perlunya perubahan Paradigma Tugas Guru
Salah satu diantara masalah besar yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia  akhir-akhir ini  yang banyak diperbincangkan dari berbagai kalangan adalah rendahnya kualitas pendidikan. Pembelajaran adalah inti dari aktivitas pendidikan, oleh sebab itu pemecahan masalah rendahnya kualitas pendidikan harus difokuskan pada kualitas pembelajaran.

Reformasi di bidang pendidikan khususnya pembelajaran  telah mulai bergulir dan banyak diperbincangkan, namun harus diakui bahwa reformasi itu masih sebatas  wacana ketimbang tindakan konkrit. Dalam dunia pendidikan telah terjadi perubahan  regulasi yang mendasar yaitu  dengan adanya:
a. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
b. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
c.  P.P.  Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Terminolgi yang dipakai dalam regulasi tersebut adalah kata pembelajaran  sedangkan kata mengajar tidak dipergunakan lagi. Penggunaan istilah tersebut membawa perubahan mendasar karena pijakan secara filosofis antara mengajar dan pembelajaran berbeda.

Mengajar merupakan terjemahan dari teaching secara deskriptif mengajar diartikan  sebagai proses penyampaian informasi atau pengetahuan dari guru kepada peserta didik. Proses penyampaian ini sering juga dianggap sebagai proses mentransfer ilmu. Dalam konteks ini transfer tidak diartikan dengan pemindahan seperti mentransfer uang, maka jumlah uang yang dimiliki seseorang akan berkurang bahkan hilang setelah ditransfer pada orang lain. (Wina Sanjaya (2006: 96). Sebagai sebuah proses menyampaikan atau menanamkan ilmu mengajar mempunyai karakteristik:
a.    Proses pengajaran berorientasi pada pengajar (teacher centred)
b.    Peserta didik dianggap sebagai obyek belajar
c.    Kegiatan pengajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu
d.    Tujuan utama pengajaran adalah penguasaan materi pengajaran

Mengajar berpijak pada pandangan behavioristik, pandangan ini menganggap betapa pentingnya faktor eksternal dalam belajar, peserta didik dianggap pasif dan perilakunya ditentukan oleh faktor eksternal (Thordike,  Ivan Pavlov, John B. Watson). Sejak tahun 1950-an, definisi mengajar (teaching) mengalami perkembangan secara terus-menerus dan perlu adanya perubahan paradigma tentang pembelajaran di sekolah. Terlepas adanya regualasi seperti tersebut di atas, apakah mengajar sebagai proses untuk menanamkan pengetahuan di abad teknologi saat ini masih relevan. Setiadaknya ada tiga alasan  perlunya perubahan paradigma mengajar yaitu (a) bahwa peserta didik bukan orang dewsa dalam bentu kecil, tetapi mereka adalah manusia yang sedang berkembang, memiliki segenap potensi dan dalam perkembangannya memerlukan komponen eksternal. (b) Ledakan ilmu dan teknologi mengakibatkan setiap orang tidak mungkin menguaai semua cabang keilmuan (c) Penemuan-penemuan baru khususnya dalam bidang psikologi, mengakibatkan pemahaman baru terhadap konsep perubahan tingkah-laku manusia.

Sedangkan pembelajaran adalah terjemahan dari kata instructional, pembelajaran berpijak pada aliran psikologi kognitif holistik yang selanjutnya diikuti pandangan konstruktif, humanistik dan seterusnya. Pembelajaran juga dipengaruhi adanya perkembangan teknologi, bahwa belajar dapat dipermudah melalui berbagai sumber belajar selain guru/dosen, sehingga merubah peran guru dalam pembelajaran. Semula guru sebagai satu-satunya sumber belajar bergeser menjadi fasilitator dalam belajaran. Gagne (1992:3) menyatakan bahwa: ”Instruction is a set of event that effect learners in such a way that learning is facilitated.” Oleh sebab itu mengajar atau teaching merupakan bagian dari instruction (pembelajaran). Peran guru lebih ditekankan kepada bagaimana merancang atau mengaransemen berbagai sumber dan fasilitas yang tersedia untuk dimanfaatkan peserta didik dalam belajar.

Belajar adalah hasil kerja faktor internal peserta didik, selanjutnya bagaimana menata faktor eksternal agar sesuai dengan kondisi internal peserta didik ini menjadi penting. Dalam batas-batas tertentu sebenarnya manusia dapat belajar sendiri tanpa bantuan orang lain, namun dalam batas-batas tertentu pula manusia dalam belajar memerlukan bantuan orang lain. Hadirnya orang lain (guru, pembimbing, dan lain-lain) dalam belajar dimaksudkan agar belajar menjadi lebih mudah, lebih lancar, lebih efektif, lebih efisien  dan berarah tujuan. Atau dengan ungkapan lain hadirnya orang lain dalam pembelajaran adalah untuk membentuk pola belajar (Karwono, 1993: 1).

Terminologi pembelajaran merupakan suatu perkembangan pemahaman manusia terhadap belajar dan bagaimana upaya  membelajarkan. Oleh sebab perlu dipahami pembelajaran merupakan kegiatan yang bersifat kontinum dimulai dari kegiatan yang berorientasi pada guru (teaching oriented) behavioristik  kepada kegiatan yang studet oriented, humanistik. Pandangan ini yang menyertai perkembangan konsep mengajar di satu titik dan pembelajaran pada titik yang lain.

Meningkatkan Kredibilitas Guru
Guru memainkan peran penting dalam transformasi budaya melalui sistem persekolahan, khususnya dalam menata interaksi peserta didik dengan sumber belajar untuk mencapai prestasi  yang diinginkan. Untuk itu  diperlukan guru yang memiliki kemampuan  akademik  dan    profesional yang memadai serta mutu kepribadian yang mantap, serta menghayati profesinya sebagai guru. Profesi keguruan membutuhkan berbagai latihan kemampuan, baik berupa latihan  kemampuan yang terbatas maupun kemampuan yang terintegrasi dan mandiri. Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, menyebutkan bahwa guru dan dosen  harus menguasai empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan guru dan dosen mengelola proses pembelajaran peserta didik.  Seorang guru yang mempunyai kompetensi pedagogik minimal telah menguasai bidang studi tertentu, ilmu pendidikan, baik metode pembelajaran, maupun pendekatan  pembelajaran. Kompetensi  kepribadian adalah kemampuan kepribadian guru dan dosen yang mantap, berakhlak mulia, berwibawa, dan menjadi teladan bagi peserta didiknya. Kompetensi sosial ialah kemampuan seorang guru dan dosen untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, guru, orang tua, dan masyarakat sekitar. Kompetensi profesioanal adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam.

Bagaimana rumusan standar pendidik dan tenaga kependidikan masih diperlukan telaah lebih lanjut, namun setidak-tidaknya guru  harus memiliki kemampuan pembelajaran yaitu, seperangkat keterampilan dasar yang diperlukan dengan  bergesernya paradigma pembelajaran dari pembelajaran yang berorientasi pada  guru (teacher oriented) kepada pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik (student oriented). Guru perlu memiliki sejumlah kemampuan untuk menata interaksi peserta didik dengan sumber belajar yang lebih memberi kesempatan bagi terjadinya kadar lebih tinggi keterlibatan dan prakarsa peserta didik sesuai dengan karakteristik yang dimiliki peserta didik dan materi pembelajaran.

Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK)  memainkan peran penting dalam pembentukan profesi keguruan   khususnya  pada segi-segi kecakapan guru, maka LPTK perlu ditata  dan dikembangkan agar menghasilkan lulusan yang secara akademik dan profesional serta kepribadian yang berkelayakan. Sedangkan pembinaan mutu kepribadian calon guru harus dilaksanakan secara terintegrasi dalam lingkungan lembaga pendidikan tenaga kependidikan yang secara karakteristik  harus berbeda dengan lingkungan pendidikan non kependidikan. Untuk meningkatkan mutu guru melalui pendidikan pra-jabatan di LPTK, penekanan diberikan  kepada kemampuan guru agar dapat meningkatkan keterampilan  pembelajaran, mengatasi persoalan-persoalan  praktis  dalam pengelolaan pembelajaran dan meningkatan kepekaan guru terhadap perbedaan individual diantara peserta didik yang dihadapinya.  John Goodlad melakukan penelitian di Amerika Serikat yang hasilnya menunjukkan bahwa peran  guru amat signifikan bagi setiap keberhasilan proses pembelajaran yang efektif.

Memuliakan Tugas Guru
Agar sekolah dapat menjalankan fungsinya sebagai benteng pertahanan terakhir penjaga perandaban bangsa, maka sekolah bukan saja bertugas dalam pemberdayaan tetapi juga mempunyai fungsi penyadaran. Untuk memberdayakan sekolah, tidak mungkin  jika tenaga pendidiknya (guru) tidak berdaya. Dalam rangka pemberdayaan  pendidikan di tanah air,  mengingat telah terjdi pergeseran-pergeseran kredibilitas guru yang sangat mencemaskan, maka agenda penting adalah untuk meningkatkan kemerdekaan dan kredibilitas guru. Beberapa faktor yang mempengaruhi pergeseran kridibilitas guru telah banyak diungkapkan oleh pengamat, ahli, praktisi pendidikan, baik itu yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Bertrand Russell salah satu tokoh filsafat terkemuka dari Inggris, pernah menyampaikan satu ulasan tentang bagaimana sejarah perkembangan guru.

Guru pada mulanya merupakan tokoh sentral yang memiliki kemandirian atau independensi dalam menuangkan pandangan dan pemikirannya. Layaknya seorang filosof, guru pada awalnya memiliki eksistensi penuh dalam berpendapat, memiliki keyakinan yang utuh dan konsisten terhadap pendiriannya. Karena itu menurut Russell, pada awalnya guru memiliki derajat yang tinggi di masyarakat, tempat orang bertanya, meminta nasihat serta untuk meminta penafsiran-penafsiran tentang realitas sosial yang ada dengan segala fenomena sosial yang menyertainya.
Pada tahap berikutnya guru untuk kepentingan penyebaran ilmu yang dimilikinya, hal ini membuat   pembelajarannya harus selaras dengan ideologi negara tempat di mana  mereka  berada. Posisi guru akhirnya merupakan tukang penerjemah ideologi yang berlaku di suatu negara sesuai dengan kondisi sosial politik yang berlaku saat itu. Jika ada guru yang mencoba ke luar dari aturan main yang digariskan oleh negara, maka secara otomatis dianggap sebagai tindakan menyimpang. Pada posisi ini, guru tidak mempunyai kekuatan sebagai subjek melainkan berfungsi sebagai instrument kepentingan negara. Guru menjadi juru propaganda kepentingan pemerintah, terlebih lagi bila secara structural pemerintah mengatur gaji maupun jenjang kepangkatannya, maka suka atau tidak suka, guru harus tunduk pada keinginan pemerintah atau mereka harus kehilangan pekerjaannya. Begitulah guru menurut Bertrand Russell, guru semakin terjebak dalam suatu kelembagaan. Sebaliknya guru secara serempak menjadi anak “gembala” negara yang dikendalikan oleh sistem politik yang sedang berkuasa.

Kedudukan dan posisi guru diperlemah dari berbagai berbagai dampak, salah satunya adalah kurang memiliki daya tawar di depan tembok birokrasi. Guru diperalat, dicekoki dan kemudian dihibur dengan slogan-slogan yang mendukung suatu kondisi agar guru menerima keadaan dengan penuh kesabaran dan seolah-olah guru harus rela menerima kenyataan pahit yakni kontraprestasi yang tidak seimbang dengan pengorbanannya. Di antara slogan-slo¬gan yang membuat guru agar tidak berontak dengan segala kondisi yang melilitnya, guru diberi gelar “sebagai pahlawan” dengan tambahan kalimat “tanpa tanda jasa”. Jadi jasa guru dari slogan ini pun sudah terlihat kurang diperhitungkan oleh negara. Untuk memperkuat gelar kepahlawanan yang sesung¬guhnya hanya sekedar pelipur lara para guru ini, maka dibuatlah “Himne Guru” yang syairnya didisain sebagai syair yang seolah-olah guru merupakan pejuang nasionalisme dengan tanpa gelar dan rela menerima kemiskinan. Untuk memperkuat pelipur lara ini, guru akhirnya disamakan dengan kedudukan Semar, simbol pengabdi negara dalam pewayangan yang memiliki sifat tanpa pamrih dan perannya yang fundamental bagi keberlangsungan suatu negara tetapi mereka tidak mendapatkan posisi yang sesuai bahkan tidak diper¬hitungkan dalam struktur kenegaraan (Aulia Reza Bastian, 2002: 136).

Termarginalnya posisi guru akibat penipuan budaya dan manipulasi ideologi seperti di atas harus segera dirubah. Guru harus dibangkitkan dengan semangat profesionalisme dan guru harus diperkuat dengan keyakinan yang menumbuhkan eksistensinya, mereka harus kembali menjadi subjek dan tidak lagi menjadi instrumen ideologi kaum penguasa. Guru harus diperjuangkan kedudukannya sebagai insan yang inde¬penden. Secara teknis perlu ada aturan-aturan yang membuat guru menjadi pilihan yang menarik sebagai profesi. Guru bukan pekerjaan marginal yang tidak diminati masyarakat. Untuk memperjuangkan ini maka guru harus mendapatkan imbalan yang layak, dibebaskan dari segala pungutan, diberi keleluasaan ruang gerak, serta guru dikembalikan sebagai insan akademis yang memiliki keleluasaan pandangan.

Agar kedudukan guru dapat terwujud dalam posisi yang ideal, maka diperlukan tindakan nyata: pertama, mengembalikan pada hakikat peran LPTK untuk menghasilkan calon guru yang  profesional sesuai dengan  undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen yaitu  guru harus meguasai kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.  Untuk mencapai hal ini, maka perlu meng¬galakkan pelatihan dan pendidikan yang bertujuan mengembangkan kemampuan akademik dan profesionalisme guru. Kedua, “me¬merdekakan pendidikan”, guru hendaknya tidak lagi dijadikan “alat negara” dan dipenuhi oleh “muatan-muatan” sehingga kreativitas dan independensi guru tetap terjaga dengan cara pembelajaran yang demokratis sehingga guru memiliki performance yang memadai.

Menata kemapuan guru dalam mengelola pembelajaran
Kemampuan mengelola pembelajaran  dipengaruhi faktor internal dan faktor eksternal, seberapa besar pengaruh tersebut sangat ditentukan bagaiamana interaksi keduanya. Meskipun diakui bahwa  pengaruh  variabel eksternal terhadap    kemampuan mengelola pembelajaran sangat besar, namun  sangat ditentukan bagaimana interaksi individu terhadap pengaruh dari luar tersebut. Locus of control sangat menentukan bagaimana  interaksi individu terhadap pengaruh dari luar berupa pemberian umpan balik. Pengaruh timbal balik ini akan tergambar pada kemampuan mengelola pembelajaran yang ditampilkan yaitu akumulasi interaksi antara kedua variabel tersebut.  Individu yang memiliki locus of control internal punya kecenderungan untuk berusaha  memperbaiki kemampuan mengelola  pembelajaran yang ditampilkan dan mudah merespon terhadap saran/kritik yang diberikan orang lain.

Sebaliknya individu yang memiliki locus of control eksternal cenderung kurang ada upaya untuk mencapai prestasi keguruan yang baik, dan mereka kurang peka terhadap kritik dan umpak balik untuk memperbaiki diri sehingga umpan balik yang diberikan cenderung tidak  banyak maknannya untuk memperbaiki diri.

Secara empirik pengaruh locus of control terhadap hasil belajar ditujukan  oleh beberapa hasil penelitian: (1) Penelitian Harris dan Yeany (1981; 221-224); Penelitian Miller dkk (1986: 161)  menyatakan bahwa  kelompok  peserta didik  yang berorientasi   locus of control internal lebih efektif dan hasilnya lebih tinggi dalam memecahkan masalah yang dihadapi daripada kelompok peserta didik yang memiliki orientasi locus of control eksternal. Kelompok peserta didik  yang memiliki  locus of control internal lebih memiliki rasa puas kalau dapat memecahkan  masalah  yang dihadapi  daripada kelompok yang memiliki berorientasi  locus of control eksternal.  Hasil penelitian Mamlin, Harris, & Case, (2001: 2) ditemukan  bahwa: “males tend to be more internal than females, as people get older they tend to become more internal, people higher up in organizational structures tend to be more internal”
Jadi ada kecenderungan pria lebih internal dibandingkan wanita, orang yang lebih tua cenderung lebih internal dari pada yang lebih muda dan atasan dalam organisasi cenderung lebih internal dari bawahannya. Terdapat pergeseran dalam jangka waktu yang panjang kearah locus of control internal. Hal ini ditandai semakin mandiri dan tingginya tangggung jawab seseorang menujukkan kearah locus of control internal. Secara umum penelitian psikologis yang disebutkan Hans, telah ditemukan bahwa bagaimanapun orang-orang yang locus of control internal kurang percaya  pada kemujuran.

Konsep locus of control telah dikembangkan oleh Julian Rotter (1973; 56), melalui teori belajar sosialnya sekitar tahun 1960-an. Rotter menghubungkan perilaku dengan psikologi kognitif serta percaya bahwa perilaku itu sebagian besar ditentukan oleh “penguatan” (hadiyah dan hukuman) dan melalui penguatan ini individu meyakini faktor penyebab tindakan mereka. Keyaninan ini dapat menuntun sikap dan perilaku seperti yang bisa diadopsi dari orang lain. Rotter mendefinisikan locus of control sebagai persepsi seseorang  terhadap sumber-sumber yang mengontrol kejadian dalam hidupnya,  dalam hal ini ada locus of control  internal dan eksternal. Jika individu tersebut  meyakini  bahwa keberhasilan  atau kegagalan yang dialami merupakan tanggung jawab  pribadi dan merupakan usaha sendiri, maka orang tersebut dikatakan memiliki locus of control internal. Sedangkan locus of control eksternal merupakan keyakinan individu bahwa  keberhasilan atau kegagalan ditentukan  oleh kekuatan  yang berada di luar dirinya yaitu nasib, keberuntungan atau kekuatan lain.

Seseorang  yang memiliki  locus of control internal mempunyai kecenderungan  sifat lebih aktif dalam mencari, mengolah dan memanfaatkan  berbagai informasi, serta  memiliki motivasi intrisik untuk berprestasi tinggi, memiliki rasa percaya diri  lebih tinggi, sehingga akan  memiliki peluang  yang lebih besar untuk berprestasi lebih baik  jika dibandingkan pebelajar yang memiliki tipe locus of control eksternal. Hal ini sejalan dengan kesimpulan yang diambil  dari beberapa  pendapat yang dikemukakan Miller, Crandall, Katkovskey dan Grandall Katkaovsky,  Preston, Ratter dan Morley  Owie,   Grabinger dan Jonassen, bahwa unsur-unsur  locus of control  yang dimiliki peserta didik berkorelasi  positif dengan prestasi belajar yang dicapai. Menurut Herman Hudoyo (1998), hal ini disebabkan karena hasil belajar merupakan penstrukturan kembali pengalaman yang ada dalam struktur  kognitif, dan penstrukturan kognitif ini ditentukan oleh kecenderungan persepsi yang dimiliki peserta didik. Selanjutnya dapat dikatakan bahwa seseorang yang memiliki locus of control interal cenderung memiliki kebutuhan berprestasi dan prestasi belajar yang lebih tinggi, bila dibandingkan dengan  individu  yang memiliki  locus of control  eksternal

Hasil penelitian yang terkait dengan pengaruh pemberian umpan balik dan locus of control terhadap kemampuan mengelola pembelajaran mikro yang dilakukan Karwono (2007: 161) menyimpulkan bahwa: (1) Terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan mengelola pembelajaran  antara individu yang diberi umpan balik  langsung dan  tak langsung dalam pembelajaran mikro.  Kemampuan individu dalam mengelola pembelajaran dengan diberi umpan balik langsung hasilnya lebih tinggi dibandingkan dengan individu yang diberi umpan balik tak langsung. Secara umum pembelajaran mikro lebih efektif dengan pemberian umpan balik langsung untuk mencapai kemampuan individu dalam mengelola pembelajaran mikro. (2) Kemampuan individu dalam mengelola pembelajaran mikro dengan pemberian umpan balik langsung hasilnya lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian umpan balik tak langsung untuk kelompok  individu yang memiliki locus of control internal. Hal ini berarti bahwa bagi  kelompok individu yang memiliki locus of control internal, melalui pemberian umpan balik langsung lebih efektif untuk meningkatkan kemampuan mengelola pembelajaran  dibanding dengan pemberian  umpan balik tak langsung. (3) Kemampuan individu dalam mengelola pembelajaran mikro dengan pemberian umpan balik tak langsung hasilnya lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian umpan balik  langsung untuk kelompok  individu yang memiliki locus of control eksternal. Hal ini berarti bahwa bagi  kelompok individu yang memiliki locus of control eksterternal, melalui pemberian umpan balik tak langsung lebih efektif untuk meningkatkan kemampuan individu dalam mengelola pembelajaran mikro dibanding dengan pemberian  umpan balik langsung. (4) Terdapat pengaruh interaksi antara pemberian umpan balik dengan locus of control terhadap  kemampuan individu dalam mengelola pembelajaran  mikro.

PENUTUP
Dibalik semua upaya yang telah dilakukan selama ini baik melalui regulasi maupun peberdayaan sekolah dalam rangka menjaga kelangsungan peradaban bangsa, sebelum mengakhiri pidato pengukuhan ini izinkanlah saya untuk menyampaikan beberapa catatan akhir sebagai berikut:
1.    Rendahnya kualitas pendidikan dapat berdampak pada rendahnya daya saing SDM. Untuk memecahkan masalah rendahnya kualitas pendidikan harus difokuskan pada kualitas pembelajaran.
2.    Guru memainkan peran penting dalam transformasi budaya melalui sistem persekolahan, khususnya dalam menata interaksi peserta didik dengan sumber belajar untuk mencapai prestasi  yang diinginkan. Untuk itu  diperlukan guru yang memiliki kemampuan  akademik  dan    profesional yang memadai serta mutu kepribadian yang mantap, serta menghayati profesinya sebagai guru.
3.    Mengingat kredibilitas guru telah mengalami pergeseran-pergeseran yang sudah sangat mencemaskan dan meng¬gelisahkan, maka agenda penting adalah untuk meningkatkan kemerdekaan dan kredibilitas guru. Kemerdekaan dan kredibilitas guru dapat dilakukan melalui pelatihan yang intensif terbimbing melalui pemberdayaan Laboratorium Pembelajaran Mikro.
4.    Dalam menata kemampuan mengelola pembelajaran pada laboratorium Pembelajaran Mikro, pemberian umpan balik sebagai reinforcement perlu memperhatikan karakteristik internal individu calon guru berupa locus of control.
5.    Jika pengelolaan pembelajaran mikro dilakukan dengan pemberian umpan balik langsung ditata secara optimal, maka kemampuan mengelola pembelajaran akan meningkat. Kemampuan mengelola pembelajaran lebih banyak dipengaruhi penataan faktor eksternal berupa pemberian umpan bailik daripada pengaruh kondisi internal berupa locus of control individu yang sifatnya  given. Karakteristik internal individu yang  berupa locus of control internal dan eksternal perlu diperhatikan dalam upaya pengelolaan strategi pemberian umpan balik dalam pembelajaran mikro untuk mencapai kemampuan mengelola pembelajaran yang optimal.

DAFTAR  PUSTAKA
Angelo, Thomas A. Classroom Research:  Early Lessons From Success. New York: Maxwell Macmilla Internatioal Publishing G. 1991.

Anglin, Gary J. Instructional Technology Past, Present, and Future. Colorando: Libraries limited, Inc., Englewood, 1991.

Astin, Alexander W.Assesment For  Excellence. New York: American Council on Education and The oryx Press Publishers. 1993.

Bastian Aulia Rezatian. Reformasi Pendidikan. Yogyakarta: Lapperan Pustaka Utama. 2002.

Bell, M.E. A Systematic Instructional Design Strategy Derived From Information Processing Thery.  1981. Vol 21 (3) 32-35.

Bloom, Benyamin S, George F. Madaus, and J. Thomas Hastings. Evaluation To  Improve  learing. New York: McGraw-Hill Book Comppany, 1981.

Brown, G.A. Pembelajaran mikro Program Keterampilan Mengajar:  terjemahan L. Kaluge. (Surabaya: Airlangga University Press. 1990)

Brown, G.A. dan Gibbs, I. Some Students reactions to Pembelajaran mikro, unpublished mimeo, New university of Ulster. 1974.

Brown, George.  Pembelajaran mikro A Programe of Teaching Skill. Methuen & co Ltd. 1975.

Cole, Paeter G. and Loma Chan. Teaching Principles and Practice. New York:  Prentice-Hall  Of Australia Pry Ltd. 1995.

Gable, Robert K. Instrument Development in Affective Domain. Boston : Kluwer-Nijhoff Publishing, 1986), p.39.

Gagne, Robert M, Leslie J., Briggs, and  Walter W. Wagner. Principles of Intructional  Design. Orlando: Harcourt Brace & Company, 1992.

Gagne, R.M, & Briggs, L.J. Principles of Instructional Design (edisi kedua). New York; Holt.    Rinerhart and Winston. 1977a.

Gene H. Hoster, Clement, Jr, and Raymond T. Stefani .Design of Feed back Control System. Cicago:  Sounders Callege Publishing, a Division of Hatt, Renert and Winston, Inc. 1989. p. 4.

Good, Thomas L.  and Jere. E. Bropy. Educational Psychology. New York: Logman, 1990.

Gredler,  Margaret  E, Bell.  Belajar dan Pembelajaran. terjemahan Munandir. (Jakarta: CV  Rajawali. 1986).

Haris, R.S and Yeany, R.H. Diagnosis, Remidiatoris and Locus of Cotrol: effecs o Immediate and Refai need Achievement and Attitude.  Journal of Exsperimental  Education, Vol. 49 (3) 221-224. 1981.

http://www.brown.edu/sheridan center/publication/preskils.html. p.1

http://en.wikidia.org/wiki/Locus of Control. p. 1

Jonassen, David H.   Handbook of Research for Educational Communication and Technology. New York:  Simon & Macmillan. 1996. p. 916.

Keefe, J.M. Learning Style: Theory & Practive. Reston, Va: National Association of secondary School Principals (NASSP). 1987.

Keller, J.M. Motivational and Istructioal Design in CM Regeluth (idit) Instructional Design Theories and Model: A  Over View of Their Current Status, Lawrence: New Jersey: Erlbaum Associaties, Publishers, Hillsdele, 1983.

Miller, P.C, Lef Corent, H.M. olmes, J.G, Wore, Wore, E.E and Saleh, W.E.   Marital Locus of control ad Marital problem Solving. Journal  of Personality ad Social Psychology, Vol 51 (1) 161-169.  1986.

Owie, T. W. “Locus of control, Instructional Mode and Student achievement”. Instructional Science, Vol 12 (2), 383-388.

Robinson, Stephen.  Organization Behavior: Concepts, Controversies and Aplication. (Englewood Cliffs: Prentice-Hall International, Inc. 1996).

Rotter. “Some problem and misconceptions related to the cotruct of iternal vercus external control reinforcemet”, Journal of Cosulting and Clenical Psychology (43) 56-67. 1975.

Seels, Barbara B, Rita C. Richey.  Teknologi Pembelajaran Definisi dan Kawasannya:  Seri Pustaka Teknologi Pendidikan.  Jakarta. 1994.

Soedijarto. Pendidikan Nasional untuk Menciptakan Kehidupan Bangsa dan Memajukan Kebudayaan Nasional melalui Sekolah  sebagai pusat Pembudayaan. Makalah: Pra Kongres Kebudayaan V. Depasar:  2003.

Suyanto. Guru yang Profesional dan Efektif. Forum Otonomi Pendidikan. Kompas  16 Pebruari  2003.

T. Raka Joni. 1984. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran. Jakarta: Ditjen Dikti. P2 LPTK, Depdikbud.

Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Wina Sanjaya. 2007. Strategi Pembelajaran Standard Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.


8 Responses to “ORASI ILMIAH: SEKOLAH SEBAGAI BENTENG TERAKHIR PENJAGA PERADABAN”


  1. September 25, 2015 at 12:11 am

    At this time it seems like Expression Engine is the best
    blogging platform available right now. (from what I’ve read) Is
    that what you’re using on your blog?

  2. May 24, 2014 at 5:34 am

    Fantastic site. Lots of helpful information here. I am sending it to some
    buddies ans additionally sharing in delicious. And certainly, thanks to
    your sweat!

  3. August 3, 2013 at 9:33 pm

    hello there and thank you for your information – I have
    certainly picked up something new from right here. I did however expertise a few technical issues using this
    web site, as I experienced to reload the website lots of times previous to
    I could get it to load properly. I had been wondering if your web hosting is OK?
    Not that I’m complaining, but slow loading instances times will often affect your placement in google and could damage your high-quality score if advertising and marketing with Adwords. Anyway I am adding this RSS to my email and can look out for much more of your respective exciting content. Make sure you update this again very soon.

  4. July 10, 2013 at 7:11 pm

    Attractive part of content. I just stumbled upon your
    weblog and in accession capital to say that I acquire in fact enjoyed account your blog posts.
    Any way I’ll be subscribing on your feeds or even I fulfillment you get right of entry to persistently fast.

  5. June 24, 2013 at 5:15 pm

    Heya i am for the first time here. I found this board and I
    to find It truly useful & it helped me out much. I’m hoping to give one thing back and aid others like you aided me.

  6. April 26, 2013 at 5:56 pm

    Thanks for every other informative web site. Where else may I am
    getting that kind of information written in such a perfect approach?

    I’ve a challenge that I am simply now operating on, and I’ve been
    on the glance out for such info.

  7. April 24, 2013 at 12:51 am

    Good day! I know this is kind of off topic but I
    was wondering if you knew where I could locate a captcha plugin
    for my comment form? I’m using the same blog platform as yours and I’m having
    problems finding one? Thanks a lot!

  8. 8 I'ah Roqi'ah
    November 18, 2009 at 3:01 pm

    Assallamu’alaikum, Pak maaf minta diposting materi kuliah Analisis Kasus Pembelajaran di Kelas. Please…!!! Buat referensi makalah nih, tinggal satu materi lagi. Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


karwono

a

KALENDER

February 2009
M T W T F S S
« Sep   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

%d bloggers like this: