15
Nov
07

[ARTIKEL] EFEKTIFITAS PEMBERIAN RANGKUMAN DAN ADVANCE ORGANIZER DALAM REMEDIAL TECAHING TERHADAP TINGKAT KETUNTASAN BELAJAR BIDANG STUDI FISIKA SMA DI KOTA METRO

EFEKTIFITAS PEMBERIAN RANGKUMAN DAN ADVANCE ORGANIZER DALAM REMEDIAL TECAHING TERHADAP TINGKAT KETUNTASAN BELAJAR BIDANG STUDI FISIKA SMA DI KOTA METRO

(Studi Eksperimen pada Mahasiswa FKIP Universitas Muhammadiyah Metro)

Oleh: Karwono

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektifitas antara pemberian rangkuman dan penggunaan advance organizer dalam pembelajaran remedial terhadap tingkat ketuntasan belajar bidang studi Fisika untuk aspek: (1) menyederhanakan konsep yang kompleks, (2) konsep yang salah tafsir, (3) konsep yang kabur. Metode penelitian menggunakan rancangan eksperimen dengan conterbalanced design terhap dua kelompok subyek yang ditetapkan secara acak. Subyek penelitian adalah peserta didik SMA di Kota Metro yang mengalami kesulitan belajar bidang studi fisika.

Hasil penelitian adalah: (1) Secara keseluruhan terdapat perbedaan yang signifikan tingkat ketuntasan belajar bidang studi fisika dalam pembelajaran remedial antara peserta didik yang diberikan rangkuman dan advance organizer. Tingkat ketutasan belajar dengan pemberian advance organizer lebih tinggi dibandingan dengan pemberian rangkuman. (2) Terdapat perbedaan yang signifikan tingkat ketuntasan belajar bidang studi fisika dalam pembelajaran remedial yang diberikan rangkuman dan advance organizer. Pemberian advance organizer dalam pembelajaran remedial lebih efektif untuk mencapai tingkat ketuntasan belajar dibandingkan dengan pemberian rangkuman untuk strategi menyederhanakan konsep yang kompleks (3) Terdapat perbedaan yang signifikan tingkat ketuntasan belajar bidang studi fisika dalam pembelajaran remedial yang diberikan rangkuman dan advance organizer. Pemberian advance organizer dalam pembelajaran remedial lebih efektif untuk mencapai tingkat ketuntasan belajar dibandingkan dengan pemberian rangkuman untuk strategi menjelaskan konsep yang kabur (4) Terdapat perbedaan yang signifikan tingkat ketuntasan belajar bidang studi fisika dalam pembelajaran remedial yang diberikan rangkuman dan advance organizer. Pemberian advance organizer dalam pembelajaran remedial lebih efektif untuk mencapai tingkat ketuntasan belajar dibandingkan dengan pemberian rangkuman untuk strategi menjelaskan konsep yang salah tafsir.

Agar terjadi tingkat ketuntasan belajar dalam remedial teching bagi peserta didik yang mengalami kesulitan belajar bidang studi fisika advance organizir dapat dimanfaatkan sebagai strategi yang lebih efektif.

PENDAHULUAN

Belum tercapainya tingkat ketuntasan belajar tertentu dalam pembelajaran, dapat dijadikan idikator bahwa dalam pembelajaran terdapat kesulitas belajar peserta didik. Faktor penyebab dan intensitas kasus kesulitan belajar ada yang dapat ditangani guru dan ada yang dapat dipecahkan oleh peserta didik itu sendiri. Secara metodologis, bahwa penanganan kasus kesulitan belajar dapat dilakukan melalui pendekatan pembelajaran remedial, bimbingan dan penyuluhan, psikoterapi dan atau pendekatan lainnya (Ditjen Dikti, 1984:57). Dalam keseluruhan proses pembelajaran, kasus pembelajaran remedial memegang peran penting dalam rangka pencapaian hasil belajar yang optimal. Pembelajaran remedial merupakan pelengkap dari proses pembelajaran utama, dan merupakan tindak lanjut pembelajaran yang ditujukan bagi peserta didik yang mengalami kesulitan belajar.

Strategi pembelajaran yang lengkap komponen-komponennya meliputi: kegiatan pra pembelajaran, penyajian informasi, partisipasi peserta didik, tindak lanjut dan testing (Soenarto Tjitrowinoto, 1984). Pada komponen tindak lanjut pembelajaran, kegiatan yang dapat dilakukan berupa remedial dan pengayaan (enrichment, dari keseluruhan proses pembelajaran komponen ini yang jarang dilakukan oleh guru. Oleh sebab itu wajar kalau peserta didik mengalami kesulitan belajar, karena setiap tahapan dan langkah belajar belum mencapai ketuntasan belajar disisi lain kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan bahan ajar berikutnya. Hal ini dapat diidentifikasi dari rendahnya perolehan hasil belajar fisika SMA di Kota Metro yaitu rerata kelasnya kurang dari 7,5.

Untuk membantu mengatasi kesulitan belajar peserta didik kegiatan yang dilakukan guru melalui pembelajaran remedial, sifat pokok kegiatan pembelajaran remedial ada tiga yaitu: (1) menyederhanakan konsep yang komplek (2) menjelaskan konsep yang kabur (3) memperbaiki konsep yang salah tafsir. Beberapa perlakuan yang dapat diberikan terhadap sifat pokok remdial tersebut antara lain berupa: penjelasan oleh guru, pemberian rangkuman, dan advance organizer, pemberian tugas dan lain-lain.

Pokok bahasan yang belum apat dikuasai peserta didik merupakan kesulitan belajar untuk mempelajari pokok bahasan berikutnya. Kenyataan ini akan diperburuk kalau pokok bahasan yang baru yang akan dipelajari memerlukan keterampilan prasyarat, disisi lain pokok bahasan yang menjadi prasyarat belum tuntas. Kesulitan lain untuk mencapai tingkat ketuntasan belajar anatar lain: perbedaan individual diantara peserta didik dalam kelas dengan sistem pembelajaran klasikal.

Asumsi yang mendasari pertimbangan metode pembelajaran remedial dengan pendekatan secara individual terhadap peserta didik yang mengalami kesulita belajar dengan pemberian rangkuman dan advance organizer adalah: (1) belajar hakekatnya adalah individual (2) pembelajaran klasikal akan selalu dihadapkan dengan ketidak tuntasan belajar (3) kalau peserta didik yang mengalami kesulitan belajar dan diberikan pembelajaran kembali secara klasikal seperti pembelajaran utama, peserta didik akan mengalami kesulitan yang serupa (4) rangkuman dan advance organizer merupakan strategi pembelajaran untuk memudahkan pemahaman materi.

Atas dasar pemikiran tersebut selanjunya permasalahannya dapat dirumuskan sebagai berikut: (1) Apakah terdapat perbedaan yang signifikan tingkat ketuntasan belajar bidang studi fisika bagi peserta didik yang mengalami kesulitan belajar antara pemberian rangkuman dan advance organizer. (2) Apakah terdapat perbedaan yang signifikan tingkat ketuntasan belajar bidang studi fisika dalam pembelajaran remedial untuk strategi menyederhanakan konsep yang kompleks antara pemberian rangkuman dan advance organizer. (3) Apakah terdapat perbedaan yang signifikan tingkat ketuntasan belajar bidang studi fisika dalam pembelajaran remedial untuk strategi menjelaskan konsep yang salah tafsir antara pemberian rangkuman dan advance organizer. (4) Apakah terdapat perbedaan yang signifikan tingkat ketuntasan belajar bidang studi fisika bagi peserta didik yang mengalami kesulitan belajar antara pemberian rangkuman dan advance organizer dalam pembelajaran remedial untuk strategi menjelaskan konsep yang konsep yang kabur.

.

DESKRIPSI TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

Tingkat Ketuntasan Belajar

Salah satu faktor penyebab kesulitan belajar dalam sistem pembelajaran klasikal adalah perbedaan diantara peserta didik. Perbedaan tersebut antara lain dari aspek tingkat kecerdasan, status sosial ekonomi, jenis kelamin, rasial dan lain-lain. Corrall (1963), dengan model of learningnya menjelaskan bahwa jika kepada peserta didik diberi waktu yang cukup (sufficient) dan diberi perlakuan yang cocok, maka peserta didik akan dapat menguasai bahan ajar sesuai dengan tingkat tuntutan sasaran yang diharapkan.

Dalam dunia pembelajaran, yang menjadi persoalan mendasar adalah pemberian waktu yang cukup dan metode yang cocok untuk setiap individu, dua hal inilah yang menjadi permasalahan pokok dalam sistem pembelajaran klasikal. Batas minimum penguasaan peserta didik terhadap bahan ajar dipersyaratkan bergerak antara 75 samapai 80 % (Ditjen Dikti, 1984: 5). Bila prosentase ini belum dicapai maka peserta didik perlu dibantu sehingga akhirnya dapat mencapai mastery learning. Pemilihan materi dan metode dalam pembelajaran remedial tidak sama dengan pembelajaran utama.

Pembelajaran remedial dilakukan setelah pembelajaran utama berupa pemberian rangkuman dan advance organizer sebagai kesatuan, sejalan dengan teori pemrosesan informasi yang ditunjukkan untuk memperkokoh ingatan jangka pendek (sesaat) menjdi ingatn jangka panjang (Gagne and White, 1978; Paivio and Desrochers, 1981). Kesulitan belajar peserta didik SMA dalam mempelajari fisika dapat dikelompokkan menjadi: (1) kesulitan dalam menyederhanakan konsep yang kompleks (2) kesulitan dalam menangkap konsep yang kabur (3) menjelaskan konsep yang salah tafsir. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kekefektifan pemberian rangkuman dan advance organizer untuk mengatasi kesulitan belajar peserta didik untuk mencapai tingkat ketuntasan belajar tertentu. Pemeberian rangkuman dan advance organizer merupakan salah satu bentuk penataan materi yang dilakukan dalam strategi pembelajaran remedial.

Pemberian Rangkuman dan Advance Organizer dalam Pembelajaran Remedial.

Sasaran akhir pembelajaran adalah membantu setiap peserta didik dalam batas-batas normalitas tertentu agar dapat mengembangkan diri seoptimal mungkin sehingga dapat menguasai tingkat ketentasan (mastery level). Secara empirik sasaran akhir tersebut tidak selamanya dapat dicapai dengan pembelajaran konvensional, maka perlu dicarikan upaya pendekatan strategis lainnya. Metode pembelajaran remedial dilaksanakan dalam keseluruhan kegiatan bimbingan kesulitan belajar mulai dari langkah identifikasi kasus sampai dengan langkah tindak lanjut. Beberapa cara yang dipergunakan dalam pelaksanaan pembelajaran remedial antara lain, (1) pemberian tugas (2) diskusi (3) tanya jawab (4) kerja kelompok (5) tutor sebaya (6) pembelajaran individual (Ditjen Dikti, 1984; 83). Dalam pemberian tugas dapat dilakukan dengan berbagai jenis antara lain dengan pemberian rangkuman baik dilakukan secara individual maupun secara kelompok, pemberian advance organizer dan yang sejenis.

Belajar dengan rangkuman lebih efektif daripada tanpa rangkuman (Spurlin, Denserau, and Brooks, 1980), mereka juga menyimpulkan bahwa rangkuman yang memusatkan pada organizing content lebih efektif daripada rangkuman yang memusatkan pada isi yang lebih rinci. Eksperimen yang dilakukan Reder dan Anderson (1980), menyimpulkan bahwa membaca rangkuman teks lebih efektif daripada membaca teksnya saja. Ditemukan juga bahwa transfer belajar menjadi lebih baik, apabila rangkuman teks dipelajari lebih dahulu baru kemudian mempelajari teksnya yang asli. Dengan demikian rangkuman lebih unggul meskipun ide-ide pokok yang terdapat dalam teksnya yang lebih asli telah diberi garis bawah.

Ross dan Divesta (1976), mengemukakan bahwa peserta didik yang belajar dengan membuat rangkuman tentang apa yang telah dibaca, memperlihatkan unjuk kerja yang lebih baik dalam tes mengingat isi teks daripada mereka yang membaca teks yang berulang-ulang tanpa membuat rangkuman. Merrill dan Stolurow (1966), menyimpulkan bahwa pemberian rangkuman yang ditata secara hirarkhis sebelum penyajian keselurhan isi, menyebabkan peserta didik belajar konsep lebih cepat dan transfer yang lebih baik. Hasil penelitian Grotelueschen dan Sorgren (1968), mendukung temuan Merrill dan Stolurow (1966), disimpulkan bahwa peserta didik yang sebelum belajar, membaca rangkuman yang berisi prinsip-prinsip dasar dari semua prinsip yang akan dipelajari memperlihatkan hasil belajar dan transfer yang lebih baik, jika dibandingkan dengan peserta didik yang langsung membaca keseluruhan. Di sisi lain advance organizer atau kerangka isi pada tingkat abstrak, dimaksudkan untuk menyediakan kerangka konseptual yang dapat dipergunakan oleh peserta didik untuk memperoleh kejelasan lebih dahulu mengenai apa yang akan dipelajari kemudian. Ausubel (1963) mengungkapkan bahwa advance organizer dapat dipakai untuk memudahkan belajar bahan bahan tertulis. Tujuan advance organizer menurut Ausubel adalah untuk mengaitkan bahan bermakna yang akan dipelajari dengan struktur yang dimiliki peserta didik. Barnes dan Claswson (1975) mengkaji sejumlah penelitian tentang advance organizer, dari 32 penelitian yang dikajinya, 12 diantaranya memperlihatkan bahwa advance organizer secara signifikan memudahkan belajar peserta didik. Sedangkan 20 diantaranya menunjukkan perbedaan yang amat kecil (tidak signifikan). Hartley dan Davis (1976) merangkum hasil kajiannya mengenai variabel advance organizer sebagai berikut: (1) Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa advance organizer memudahkan belajar, dan sekaligus meningkatkan retensi. Ada 10 penelitian yang memperlihatkan yang sejenis. (2) Penelitian lain menunjukkan bahwa pengaruh advance organizer terhadap hasil belajar dan retensi tidak signifikan, sedangkan 15 penelitian yang termasuk kelompok ini menyatakan siginifikan pengaruhnya terhadap hasil belajar dan retensi. (3) Beberapa peserta didik cenderung mendapatkan keuntungan lebih banyak dari penggunaan advance organizer daripada peserta didik lainnya. Peserta didik yang memiliki kecerdasan di atas rerata lebih diuntungkan oleh adanya advance organizer, ada 7 penelitian yang menunjukkan hal ini. (4) Organizer ekspositorik amat bermanfaat pada anak-anak yang memiliki kemampuan verbal dan kemampuan analitik yang rendah, ada 2 penelitian yang menunjukkan hal ini. (5) Terdapat 10 penelitian menemukan advance organizer yang diberikan setelah pembelajaran kadang-kadang lebih dapat memudahkan belajar peserta didik daripada organizer yang diberikan sebelum pembelajaran. Namun ada 2 temuan penelitian yang tidak menunjukkan arah yang pasti mengenai hal ini.

Hipotesis Penelitian

Atas dasar kajian teoretik dan kerangka pikir yang dibangun, selanjutnya dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut: (1) Terdapat perbedaan tingkat ketuntasan belajar peserta didik yang mengalamai kesulitan belajar bidang studi fisika dalam pembelajaran remedial antara peserta didik yang diberikan rangkuman dan advance organizer. Tingkat ketutasan belajar dengan pemberian advance organizer lebih tinggi dibandingan dengan pemberian rangkuman. (2) Terdapat perbedaan tingkat ketuntasan belajar peserta didik yang mengalamai kesulitan belajar bidang studi fisika dalam pembelajaran remedial yang diberikan rangkuman dan advance organizer. Pemberian advance organizer dalam pembelajaran remedial lebih efektif untuk mencapai tingkat ketuntasan belajar dibandingkan dengan pemberian rangkuman untuk strategi menyederhanakan konsep yang kompleks (3) Terdapat perbedaan tingkat ketuntasan belajar peserta didik yang mengalamai kesulitan belajar bidang studi fisika dalam pembelajaran remedial yang diberikan rangkuman dan advance organizer. Pemberian advance organizer dalam pembelajaran remedial lebih efektif untuk mencapai tingkat ketuntasan belajar dibandingkan dengan pemberian rangkuman untuk strategi menjelaskan konsep yang kabur (4) Terdapat perbedaan tingkat ketuntasan belajar peserta didik yang mengalamai kesulitan belajar bidang studi fisika dalam pembelajaran remedial yang diberikan rangkuman dan advance organizer. Pemberian advance organizer dalam pembelajaran remedial lebih efektif untuk mencapai tingkat ketuntasan belajar dibandingkan dengan pemberian rangkuman untuk strategi menjelaskan konsep yang salah tafsir. .

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di lingkungan SMA Kota Metro, menggunakan metode experiment dengan Conterbalanced Design terhadap dua kelompok subyek yang ditetapkan pengambilannya melalui sistemm acak. Kedua kelompok mendapat pembeljaran dengan isi, tujuan, dan waktu pelaksanaan yang sama. Rancangan penelitian tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Replikasi Kelompok

Perlakuan dan Test

 

 

1

 

X-1

X-2

Kelompok A-1 T-1 B-1 T-2
Kelompok A-2 T-1 B-2 T-2
Kelompok A-3 T-1 B-3 T-2
Rerata …….. ……… ……… ………..

 

2

Kelompok B-1 T-1 A-1 T-2
Kelompok B-2 T-1 A-2 T-2
Kelompok B-3 T-1 A-3 T-2
Rerata ………. ………. ………. ……….

Keterangan:

Kelompok A-1 dan B-1 = Kelompok peserta didik yang mengalami kesulitan belajar untuk menyederhanakan konsep yang kompleks

Kelompok A-2 dan B-2 = Kelompok peserta didik yang mengalami kesulitan belajar menjelaskan konsep yang kabur

Kelompok A-3 dan B-3 = kelompok peserta didik yang mengalami kesulitan belajar untuk memperbaiki konsep yang salah tafsir

X-1 = Perlakuan pembelajaran remedial dengan pemberian rangkuman

X-2 = Perlakuan pembelajaran remedial dengan pemeberian advance organizer

T-1 = Kondisi awal peserta didik yang mengalami kesulitan belajar

T-2 = Tingkat ketuntasan belajar setelah memperoleh perlakuan belajar berupa rangkuman dan advance organizer

Rancangan penelitian ini melibatkan serangkaian replikasi, untuk masing-masing kelompok menerima semua jenis perlakuan, dan pengukuran kelompok dilakukan pada setiap replikasi.

Populasi sasaran penelitian ini adalah peserta didik SMA di lingkungan Kota Metro yang mengalami kesulitan belajar bidang studi fisika. Sampel penelitian 80 orang yang mengalami kesulitan belajar, teknik pengambilan sampel dilakukan secara acak, selanjutnya dikelompokan menjadi dua kelompok perlakuan berupa pemberian rangkuman dan advance organizer. Variabel penelitian adalah variabel bebas adalah berupa perlakuan dalam pembelajaran remedial yang dibedakan menjadi pemberian rangkuman dan advance organizer, sedangkan variabel terikat adalah tingkat ketuntasan belajar bidang studi fisika SMA. Variabel atribut yaitu sifat kegiatan pembelajaran remedial yang dapat dikelompokkan menjadi (1) menyederhanakan konsep yang kompleks (2) menjelaskan konsep yang kabur (3) memperbaiki konsep yang salah tafsir. Variaabel yang tidak diteliti tetapi diduga dapat mempengaruhi kesalahan internal penelitian diupayakan konstan. Instrumen yang dipergunakan untuk mengumpulkan data penelitian adalah berupa tes hasil belajar. Analisis data, untuk menganalisis data perbedaan tingkat ketutansan hasil belajar peserta didik yang mengalami kesulitan belajar bidang studi fisika dengan pemberian rangkuman dan advance organier menggunakan t-tes.

PEMBAHASAN

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat perbedaan tingkat ketuntasan belajar bidang studi fisika SMA dalam pembelajaran remedial antara pemberian rangkuman dan advance organizer. Dalam pembelajaran remedial dengan pemberian advance organisir menunjukkan tingkat ketuntasan belajar lebih tinggi di bandingkan dengan pemberian rangkuman, hal ini ditunjukkan dari perolehan rerata kedua kelompok tersebut untuk emdapat kali replikasi yang dilakukan secara perlakuan silang. Temuan penelitian ini sesuai dengan pendapat Ausubel (1963) yang menyatakan bahwa, advance organizer dapat memudahkan belajar bahan tertulis. Hal ini dapat dipahami karena advance organizer menyediakan konseptual yang dapat digunakan peserta didik untuk memperoleh kejelasan lebih dahulu mengenai apa yang akan dipelajari. Kelebihan lain dari advance organizer adalah mengaitkan bahan bermakna yang akan dipelajari dengan struktur kognitif yang dimiliki peserta didik.

Untuk strategi menyederhanakan konsep yang kompleks dalam pembelajaran remedial, hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian advance organizer tingkat ketuntasannya lebih tinggi yaitu reratanya (70,54) sedangkan tingkat ketuntasan belajar dengan pemberian rangkuman reratanya (48,99). Dalam pembelajaran remedial kesulitan belajar bidang studi fisika sebagian besar adalah pada upaya menyederhanakan konsep yang kompleks.

Pemberian rangkuman dan advance organizer dalam pembelajaran remedial untuk strategi menjelaskan konsep yang salah tafsir, hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat ketuntasan belajar rerata yang diperoleh dengan advance organizer (84,57) dan lebih tinggi dari rerata tingkat ketuntasan belajar dengan pemberian rangkuman sebesar (68,75). Hal ini dapat dimengerti karena advance organizer menurut Haryley dan Davies (dalam Degeng 1989), bahwa advance organizer ekspositorik sangat bermanfaat bagi peserta didik yang memiliki kemampuan analitik yang rendah. Sedangkan peserta didik yang memiliki tingkat kecerdasan di atas rerata peserta didik yang lain lebih diuntungkan dengan pemberian advance organizer. Tetapi hasil penelitian ini berbeda dengan sejumah penelitian yang menunjukan bahwa pemberian rangkuman teks teruji memiliki pengaruh yang efektif terhadap permasalahan belajar. Penelitian ini memberikan rekomendasi bahwa pemberian advance organizer memberikan kontribusi lebih baik.

Lepas dari perbedaan tingkat ketuntasan belajar baik dengan rangkuman maupun dengan advance organizer, namun keduanya dapat membantu mengatasi kesulitan belajar peserta didik. Hal yang menarik dalam pembahasan ini adalah kapan sebenarnya advance organizer diberikan untuk mengatasi kesulitan belajar fisika SMA, baik untuk mengatasi kesulitan belajar menyederhanakan konsep yang komplek, menjelaskan konsep yang salah tafsir maupun konsep yang kabur. Tetapi kedua-duanya dapat bermanfaat untuk membantu siwa yang mengalami ketuntasan belajar tertentu. Untuk itu dipelukan penelitian lanjutan terhadap temuan penelitian ini.

KESIMPULAN

Berdasarkan uji hipotesis dan pembahasan selanjutnya dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Pertama, Secara keseluruhan terdapat perbedaan tingkat ketuntasan belajar peserta didik yang mengalamai kesulitan belajar bidang studi fisika dalam pembelajaran remedial antara peserta didik yang diberikan rangkuman dan advance organizer. Tingkat ketutasan belajar dengan pemberian advance organizer lebih tinggi dibandingan dengan pemberian rangkuman. Kedua, Terdapat perbedaan tingkat ketuntasan belajar peserta didik yang mengalamai kesulitan belajar bidang studi fisika dalam pembelajaran remedial yang diberikan rangkuman dan advance organizer. Pemberian advance organizer dalam pembelajaran remedial lebih efektif untuk mencapai tingkat ketuntasan belajar dibandingkan dengan pemberian rangkuman untuk strategi menyederhanakan konsep yang kompleks (3) Ketiga, Terdapat perbedaan tingkat ketuntasan belajar peserta didik yang mengalamai kesulitan belajar bidang studi fisika dalam pembelajaran remedial yang diberikan rangkuman dan advance organizer. Pemberian advance organizer dalam pembelajaran remedial lebih efektif untuk mencapai tingkat ketuntasan belajar dibandingkan dengan pemberian rangkuman untuk strategi menjelaskan konsep yang kabur (4) Keempat, Terdapat perbedaan tingkat ketuntasan belajar peserta didik yang mengalamai kesulitan belajar bidang studi fisika dalam pembelajaran remedial yang diberikan rangkuman dan advance organizer. Pemberian advance organizer dalam pembelajaran remedial lebih efektif untuk mencapai tingkat ketuntasan belajar dibandingkan dengan pemberian rangkuman untuk strategi menjelaskan konsep yang salah tafsir. .

SARAN

Lepas dari kelemahan yang terdapat dalam penelitian ini, tiga buah saran yang dapat disampaikan atas temuan penelitian ini sebagai berikut: (1) Agar peserta didik yang mengalami kesulitan belajar bidang studi fisika dapat mencapai tingkat ketuntasan belajar yang tinggi dalam pembelajaran remedial, maka pemberian advance organizer dapat membantu mengoptimalkan mengatasi kesulitan belajar di bandingkan dengan strategi yang lain. (2) Agar peserta didik dapat mencapai hasil yang optimal dalam pembelajaran klasikal, maka hasil pembelajaran utama perlu dilakukan tindak lanjut yaitu berupa pembelajaran bagi peserta didik belum mencapai tingkat ketuntasan 80 % penguasaan pokok bahasan dengan pembelajaran remedial dan pengayaan (enrichment) bagi peserta didik yang telah mencapai tingkat ketuntasan (lebih dari 80 %) pokok bahasan, sebelum melanjutkan pada pokok bahasan berikutnya.

DAFTAR RUJUKKAN

Aussubel, DP. And Blace, E. Jr. 195. “Proactive Inhibition in the Forgeting of Meaningful School Material”. Journal of Educational research. 52. 145 -149.

Aussubel D.P, Robbins, L.C, and Blake, E. Jr. 1957. “Retroactive Learning Recommendation in the Learning of School Matrials”. Journal of Educational Psychology, 48, 334 -343.

Barnes. BR. And Clawson, E.U, 1975. Advance Organizers Facilitate Learning recommendations for further research on an analysis of 32 students. Review of Research, 45, 637 -659.

Carrol, J.B. 1963. “Research on Teaching Foreign Languages” dalam N.L. Gane, ed, Handbook of Research on Teaching. Chicago: Rand McNally, 1060 – 1100.

Grotelueschen, A and Sjogren, D.K. 1968. Effects of Differentially Structured Introductory Matrials and Learning and Transfer”. American Educational Research Journal, 5, 191 – 202.

Hartley, J. and devis, I.K. 1973. PreInstructional Strategies: the Role of pretests, behavior obyectives, and advance organizers. Review of Educational research, 46 (2), 239 – 265.

Ischak, SW, dan Warji, R. 1982. Program Remedial dan Proses Belajar-Mengajar. Yogyakarta: Liberty.

Mirrill, MD and Stolurow, L.M. 1966. “Hirarchical Preview vs Problem Oriented Review in Learning on Imaginary Science”. American Educational Research Journal, 251 – 261.

Reder, L.M and Anderson, J.R. 1980. Comparasion on Texts and Their Sumaries: Memorial Consquences. Journal of Verbal Learning and Verbal Behavior, 19, 121 – 134.

Roos, SM and Di Vesta, F.J. 1976. “Oral Summary as a Review Strategy for Enhancing recall of texual material”. Journal of Eductional Psychology, 68, 689 -695.

Spurlin, J.E., danserau, D.F, and Brooks, L.W. 1980. Tex Ocessing Effects of Sumamarization Prequency on Performance. Paper Presented at the Meeting of the Southwestern Psychological Association, Oklahoma City, April.

 


6 Responses to “[ARTIKEL] EFEKTIFITAS PEMBERIAN RANGKUMAN DAN ADVANCE ORGANIZER DALAM REMEDIAL TECAHING TERHADAP TINGKAT KETUNTASAN BELAJAR BIDANG STUDI FISIKA SMA DI KOTA METRO”


  1. March 4, 2014 at 7:56 pm

    Your girl knows about your porn addiction, whether you think so or not.
    To see Kacey Jordan’s ‘Good Morning America’ interview, click on the video player to the left
    of this article, or click here. Who knew “Kony” 2012
    would inspire so much sexual substance when the driving point was suppose to be about
    helping children in the country of Uganda.

  2. 2 anza
    January 5, 2010 at 4:31 am

    pak, saya mahasiswa kimia, saya masih menyusun desain skripsi, di tempat saya tidak ada buku yang membhas tentang advance organizer, saya mau tanya apakh ada buku yang membahas model ini

  3. 3 eneng soihat
    April 20, 2009 at 6:41 am

    Asslm..Pa,sy mo minta bantuannya.sy mhswi prodi Pend Mat yg sedang menyusun kerangka proposal skripsi.kebetulan judul yg sudah di ACC adalah tentang model Advance Organizer. sy kebingungan mengenai langkah-langkah pembelajaran dg Advance Organizer dlm KBM.bisa bantu sy Pa?scpatnya.trims…

  4. 4 lenni
    March 4, 2009 at 7:22 am

    apa sich kelebihan dari model ini secara nyata jika diterapkan???????

  5. 5 fajar suci susanti
    November 14, 2008 at 1:23 pm

    nama: fajar suci susanti
    npm:07310905
    prodi:p.matematika

    ass,pak saya mau tanya???
    tugas dari bapak saya belum begitu jelas
    mengenai teori belajar kognitif,apakah perlu di cantumkan solusi jika ada kekurangan dalam teori tersebut

  6. September 13, 2008 at 3:39 pm

    terima kasih kami ucapkan kpd Bapak, karena dari Blog ini banyak sekali tulisan yang membantu saya. Maaf apabila ada beberapa tulisan yang saya unduh, dan saya paste. Kalau boleh akan saya meng-link ke blog Bapak, sekali lagi terima kasih saya ucapkan…….semoga tulisan Bapak mendapat imbalan pahala dari Alloh swt.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


karwono

a

KALENDER

November 2007
M T W T F S S
    Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

%d bloggers like this: